The train is still running, and so am i.
This world is always try to take me down, but i still can see the morning light everyday i open my eyes.
A hundred pages are written, but there are just not enough for me to tell you bout the dream.
So here i am, represent you bout my episode.
The episode of a dream.
Cheers.
“Kelenjar Getah Bening”….
Kira-kira itu yang sempat ayah saya ucapkan saat saya tanyakan penyakit apa yang menyerang Pak Yadi - teman kuliah dan kerja ayah saya yang sekaligus punya anak yang juga teman SMA saya.
Tepat tadi siang, ayah saya mendapatkan kabar bahwa temannya itu harus dilarikan (lagi) ke Rumah Sakit pada hari sebelumnya. Lagi? Ya..lagi. Karena ternyata sebelumnya beliau pernah dinyatakan mendapatkan penyakit yang sama beberapa bulan yang lalu, namun sudah dinyatakan membaik. Tapi siapa yang sangka ketakutan itu datang lagi beberapa hari yang lalu kepadanya. Kepada keluarganya. Kepada orang-orang yang menyayanginya. Bahkan menurut Dokter, kondisinya yang sekarang jauh lebih buruk dibanding beberapa bulan yang lalu itu. Itulah yang membuat Dokter memutuskan untuk melakukan Biopsi (penentuan stadium untuk membantu dokter mendiagnosis kelenjar getah bening) kepadanya kemarin.
Rumah Sakit Immanuel, di mana merupakan tempat saya menancapkan kaki ke dunia untuk pertama kalinya itu menjadi destinasi Saya, Ayah, dan Ibu sore itu. Ya..beliau dirawat di sana. Setelah mempersiapkan buah-buahan yang akan kami berikan pada teman ayah saya itu, kami pun bergegas masuk ke bangunan yang penuh aroma obat itu. Mencari kamar yang jadi singgasana Beliau yang kami harap hanya untuk sementara.
Akhirnya perjalanan menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit membawa kami ke sebuah kamar yang sudah dipenuhi orang-orang. Entah itu saudara ataupun rekan-rekan beliau. Yang saya yakin mereka semua menyayangi teman ayah saya itu. Betapa tidak, saat yang saya lihat adalah raut muka semuanya yang begitu cemas namun tetap dengan menunjukkan sedikit senyum yang bisa dibilang hmmm…senyum lemas mungkin (?).
Apapunlah itu. Hal itu juga yang saya lihat dari raut muka seorang lelaki yang saya kenal. Aldy namanya. Putra pertama Pak Yadi yang merupakan teman sekelas saya sewaktu duduk di kelas 1 SMA. Sudah lama saya tidak melihat bocah satu itu. Yang terkenal bandel, jahil, suka sekali ngebanyol, dan perilaku menyenangkan lainnya. Namun saat itu dipaksa harus menunjukkan satu ekspresi lainnya dari mukanya di hadapan saya. MURAM.
Kami pun berangkulan ala artis hip hop dari Bronx sekenanya, mengucapkan “Hei..what’s up bro!!”. Merasa begitu dekat lagi. Saya berikan satu plastik berisi buah-buahan yang tadi sudah dibeli. Dia ucapkan “Wei…terimakasih Bro, jadi ngerepotin”. Saya lirik sedikit ke meja di sampingnya, sudah menumpuk plastik-plastik dan buah-buahan yang sama seperti yang saya beri dari beberapa orang yang sudah mengunjungi. Dan saya yakin kata-kata yang Si Aldy ucapkan tadi adalah yang ke-11 kalinya.
Tapi saat itu ada yang lebih menarik mata saya. Siapa lagi kalo bukan ayahnya Aldy. Dengan tubuhnya yang sedikit kaku di pembaringan, badan yang jauh jauh mengecil dari dulunya, perutnya yang bulat membusung, dan selang kecil yang menusuk di tangan kanannya cukup membuat saya prihatin. Saya mencium tangannya, menanyakan “Om, gimana dah baikan?”, Dia menjawab, “Eh Ruby ya? ya sekarang mah gini-gini aja.” Dia bertanya lagi, “Gimana rub? masih suka ngeband?” DWEEENG. “Hahahaha…” saya dan orang tua saya tertawa. “Wah ngga om, sekarang mah gini-gini aja.”Beliau berkata lagi, “Udah..buat sekarang mah jangan nge-band mulu” Sembari tersenyum. Saya mengangguk dan tersenyum mantap kepadanya. Berpikir bahwa ternyata dia masih bisa membuka obrolan meski lewat basa-basi kecil, ya seperti Pak Yadi yang biasanya.
Akhirnya beliau berbincang panjang dengan ayah saya, istrinya berbincang pendek dengan ibu saya, dan saya yang berbicang sedang-sedang saja dengan Aldy. Kami berdialog. Setelah pertanyaan mengenai penyakit ayahnya yang sedikit ruwet, membuat saya berhenti dan mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai pekerjaannya di Jakarta. Karena dari wajahnya saya lihat kekhawatiran yang sangat. Oh iya…saat itu dia harus segera pergi, mengejar travel untuk ke Jakarta. Karena hari senin dia harus mulai menguras keringat lagi. Sekali kemudian dia berkata, “Rada males euy gawe deui, hayang di dieu we. Gawe ge geus teu bener siah, Rub! Kapikiran wae.” (“Sedikit males kerja lagi uy, pengen di sini aja. Kerja juga dah ga bener, Rub! Kepikiran terus.”). Saya cuma berkata “Ya iyalah..Pasti…yang sabar aja Dy.” Dia mengangguk kecil.
Setelah beberapa lama akhirnya, Pak Yadi berkata pada anaknya itu. “Aldy cepet kejar travel, ntar telat lho.” “Iya pah.” Sahutnya. Akhirnya teman saya itu menghampiri sosok ayahnya di pembaringan itu, mengucapkan sesuatu sambil merangkul pada ayahnya. Hening sejenak. Setelah sebentar kemudian, semuanya ditutup dengan rangkulan dan ciuman ke kepala dan tangan pada sang ayah oleh teman saya itu. Dia berbalik memalingkan muka. Oh tidak, keduanya memalingkan muka. Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, yang saya tahu kedua mata mereka merah mengeluarkan air mata.
Setelah mengucapkan pamit pada semua, termasuk pada saya. Saya ucapkan sesuatu padanya. “Hei…inget gawe yang semangat n bener lo.” Dia merangkul saya lagi dengan senyum dan anggukan tipis, dan tetap dengan matanya yang seperti ditutup-tutupi, tak ingin dilihat orang lain. Pada akhirnya, saya mengerti kadang seseorang yang dingin, keras dan tidak mau kelihatan cengeng pun, saat mereka tak bisa membendungnya lagi. Air mata pun bisa saja keluar. Termasuk pada sosok temen saya itu. Si Bocah yang tidak pernah keliatan murung. Dan apa yang dia perbuat saat itu. Percaya…saya menghargainya.
Saya dan Keluarga pun akhirnya berpamitan. Ada perasaan tidak enak juga, saat itu beliau harus segera minum obat dan istirahat. Kami juga sudah cukup mengganggu mungkin saat itu. Tapi semoga itu jadi recharge energy juga untuk beliau, saat tahu masih banyak orang di sampingnya yang mendoakannya, yang menyayanginya. Setelah mengecup tangannya saya mendoakannya agar lekas kembali sehat. Saya dan Keluarga mendoakan. Entah apa yang bisa kami berikan lagi saat itu dan nanti. Untuknya dan untuk keluarganya, kami hanya bisa selalu mendoakan.
Jangan menyerah buat yang satu ini Pak. Maaf..Buat apapun itu. Kekuatan anda diuji saat ini. Saya dan Keluarga doakan.
When the tears is should have to come. Just let it be. Believe that it’ll heals somehow. Bandung, mendung dua ribu sepuluh.

(Namun sehabis mendung pun selalu datang terang)